Air justru berpotensi menurunkan suhu fluida dan gas di dalam bumi.
“Ini penting, karena karakter panas bumi di Sulut adalah 95 persen fluida dan 5 persen gas,” kata dia.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Pemanfaatan panas bumi di Sulut pun masih bisa berkembang lebih jauh.
Namun, data PGE Area Lahendong menunjukkan, pemanfaatan panas bumi untuk listrik di sistem Sulutgo melambat.
Tren ini ditengarai akibat pandemi Covid-19.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Namun, pengelola PLTP Lahendong di sisi PLN berkomitmen untuk terus meningkatkan layanannya.
Hal ini telah diwujudkan dengan perombakan material komponen pembangkit untuk beradaptasi dengan sifat gas yang sangat korosif akibat kandungan silika.
“Kami sering menghadapi masalah berupa kualitas uap yang di luar standar. Karenanya, kami memiliki empat analis kimia yang terus memonitor uap yang masuk ke pembangkit kami. Kami rutin memberikan treatment (perawatan) kepada uap serta air pendingin sehingga keandalan pembangkit tetap terjaga,” kata Wahib. [frs]